Ia datang seperti kabut pagi, Mengendap dalam relung jiwa yang sunyi. Sosoknya bagai sulaman awan di cakrawala, Menari-nari dalam sudut mata yang lelah. Kureguk namanya bagai anggur merah, Memabukkan benak, membutakan arah. Kuukir wajahnya di kanvas imajinasi, Lukisan indah penuh delusi. Kubisikkan rahasia ke telinga angin, Berharap sampai pada gendang telinganya. Namun kata-kata itu terhempas ke dasar jurang, Tak pernah sampai, seperti surat dalam botol. Kurajut kasih dari benang-benang harapan, Merangkai mimpi di batas nyata dan khayalan. Menciptakan simfoni dari keheningan, Mendengar melodi yang tak pernah ada. Kubangun istana megah di atas pasir, Dengan menara setinggi angan-angan. Perlahan ombak waktu mengikisnya, Menyisakan puing-puing kenangan. Kulihat wajahnya terpantul di cermin waktu, Namun ketika kusentuh, pecahlah kaca itu. Melukai tanganku dengan serpihan kenyataan, Bahwa ia tak lebih dari fatamorgana. Seperti Pygmalion yang mencinta patungnya, Kuciptakan dirim...