Dia selalu datang ketika langit mulai kehilangan birunya, ketika senja merangkak pelan dari balik jendela. Seperti daun yang jatuh tak memilih tanah, begitu pula dirinya—tak pernah memilih untuk berhenti meminta, berharap, atau berdoa. Entah sejak kapan angka itu melekat dalam benaknya: lima persen. Sebuah fraksi yang mungkin bagi banyak orang tak berarti apa-apa, tapi baginya, itu adalah seluruh ruang yang tersisa di antara kepastian dan kehampaan.
Dunia ini luas, pikirnya. Setiap detik, ada jutaan tangan terkatup, jutaan bibir berbisik permintaan. Tapi dari semua itu, hanya segelintir yang sampai—seperti butiran debu yang tersaring oleh angin, hanya sedikit yang benar-benar menempel. mendapat lima persen.
Lima persen mungkin terkesan kecil, tapi kalau itu adalah lima persen dari seluruh dunia, dari seseorang yang tak pernah berhenti memintanya—maka itu bukan lagi sekadar angka. Itu adalah sisa cahaya yang tersisa di antara gelap, sepotong waktu yang diambil dari keabadian, setitik ruang di antara ketiadaan.
Dia itu tak pernah tahu. Atau mungkin, dia pura-pura tak tahu. Baginya, lima persen itu mungkin hanya secuil perhatian yang tak perlu dibahas, seperti dedaunan yang jatuh di musim gugur—banyak, lalu terlupakan. Tapi bagi lelaki ini, itu adalah seluruh musim yang dia simpan dalam genggamannya.
Kadang, dia membayangkan betapa beratnya dunia jika harus ditimbang. Berapa ton bahagia, berapa liter air mata, berapa hektar harapan yang terhampar di atasnya. Dan di tengah semua itu, dia hanya meminta lima persen—sebuah porsi yang bahkan tak cukup untuk mengisi sebotol kecil. Tapi itu cukup. Karena lima persen dari sesuatu yang tak terbatas, tetaplah tak terbatas.
Maka dia terus berjalan, membawa angka itu seperti membawa secuil mantra. Lima persen. Mungkin besok jadi empat. Atau tiga. Atau—suatu saat nanti—nol. Tapi selama masih ada yang tersisa, dia akan tetap menghitungnya, seperti menghitung bintang yang tersisa sebelum fajar.
Akhirnya, bukan tentang seberapa besar yang dia dapat. Tapi tentang seberapa lama dia bisa bertahan dengan sisa-sisa yang diberikan dunia.
Dan lima persen itu—selamanya akan lebih dari cukup.
Jakarta, 01 Agustus 2025
Comments
Post a Comment